Sidik Jari dan Identitas Seseorang

“ aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah)

Al-Qurthubi Zajjaj dalam ulasan mengenai ayat-ayat di atas berkata, “Beberapa orang mengklaim bahwa Alloh Ta’ala tidak membangkitkan yang mati dan tidak mampu mengumpulkan kembali tulang belulang yang telah membusuk. Maka Alloh Ta’ala membalas mereka bahwa dia mampu mengumpulkan kembali bahkan bahkan tulang belulang yang paling kecil sekalipun. Jika Dia mampu melakukan ini maka tentunya Dia mampu mengumpulkan tulang belulang yang lebih besar.

Di sini, kita perlu menarik perhatian kepada fakta bahwa para ulama kala itu tidak memiliki peralatan medis modern yang mengizinkan mereka untuk mengetahui apa yang ditemukan para ahli anatomi kontemporer temukan sekian abad setelahnya.

Pendahuluan Sejarah

Pada tahun 1823, seorang ahli anatomi dari Ceko, Purkinje, menemukan kenyataan tentang sidik jari. Setiap sidik jari pada ujung jari satu orang dengan yang lainnya berbeda. Dia menemukan tiga jenis jari: berbentuk bususr, sirkular, dan kotak. Garis-garis ini disebut komponen karena terdiri dari bentuk yang berbeda.

Pada tahun 1858 seorang ilmuwan dari inggris, William Herschel, menunjukkan fakta bahwa sidik jari berbeda-beda pada tiap orang. Hal tersebut menjadikan sidik jari sebagai karakteristik yang khusus pada masing-masing individu.

Pada tahun 1877, Dr. Henry Faulds menemukan cara untuk menempatkan bahwa bentuk sidik jari dari tiap jari akan tetap sepanjang hidup orang tersebut. Sidik jarinya tidak akan berubah, apapun yang terjadi. Seorang ilmuwan menemukan bahwa salah satu dari  mumi mesir yang dibalsam, sidik jarinya tetap bertahan dengan jelas.

Galton juga membuktikan bahwa tidak ada dua orang yang memiliki garis-garis lentur yang sama. Dia juga menegaskan bahwa garis-garis lentur ini sudah terlihat pada jari bayi yang belum lahir, di dalam janin ibunya saat kehamilan antara 100-120 hari.

Pada tahun 1893, seorang komisaris Scotland Yard, Edward Henry menemukan metode yang mudah untuk mengklasifikasi dan mengumpulkan sidik jari. Dia menganggap bahwa sidik jari dari tiap jari dapat dikelompokkan menjadi delapan delapan tipe utama. Dia juga menganggap kesepuluh jari dari kedua tangan sebagai unit yang lengkap dan cukup untuk menentukan identitas seseorang. Dalam tahun yang sama, sidik jari dimasukkan sebagai alat bukti yang kuat dalam departemen kepolisian di Scotland Yard, menurut British Encyclopedia.

Sejak penemuan sidik jari, para peneliti telah melakukan studi pada banyak orang dari berbagai ras dan tidak ada satu pun sidik jari yang sama dari masing-masing orang.

Fakta Ilmiah

Sidik jari janin terbentuk pada bulan keempat kehamilan dan sidik jari ini akan tetap ada sepanjang hidupnya.

Sidik jari adalah kumpulan dari garis-garis lentur yang terbentuk dari kohesi lapisan cutis (dermis) dengan kulit.

Garis-garis lentur ini berbeda pada setiap orang, tidak ada dua orang dengan garis yang sama.

Sidik jari telah menjadi cara yang ideal untuk mengenali identitas seseorang.

Tafsir ilmiah

aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).  Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Q.S. Al-Qiyamah: 1-4)

Ayat-ayat mulia ini telah menarik perhatian serta ketakjuban dari para ahli tafsir karena Alloh Ta’ala bersumpah demi hari kiamat dan dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri. Alloh Ta’ala bersumpah dengan keduanya  mengenai suatu hal besar  yang dianggap sebagai salah satu tiang dari keimanan dalam islam, yaitu iman terhadap kebangkitan setelah kematian dan pengumpulan tulang belulang dalam persiapan menuju perhitungan dan pembalasan.

Setelah Alloh Ta’ala bersumpah dengannya,D ia menjelaskan bahwa kebangkitkan yang mati dan mengumpulkan tulang mereka tidak mustahil bagi-Nya; karena Dia yang mampu mengumpulkan tulang jemari manusia dengan sempurna, juga mampu mengumpulkan tulang belulangnya dan membuatnya hidup kembali.

Namun, hal yang paling mengejutkan dalam cerminan pertama mengenai sumpah ini adalah kemampuan untuk mengumpulkan kembali ujung jemari manusia. Ujung jari adalah bagian yang sangat kecil dari tubuh manusia dan sulit untuk mengumpulkan tulang kemudian menghidupkannya kembali setelah membusuk. Mampu menciptakan bagian terkecil saja bisa, apalagi menciptakan bagian yang besar.

Suatu ketika beberapa pelaku kriminal di kota chicago Amerika Serikat, yakin bahwa mereka dapat mengubah sidik jari mereka. Mereka megubah kulit dari jemari mereka kemudian menggantikannya dengan potongan-potongan daging yang baru, yang diambil dari bagian tubuh mereka yang lain. Mereka kecewa saat melihat potongan daging yang ditanam tumbuh dan memiliki sidik jari yang sama. Selama sembilan puluh tahun sejak kateggorisasi sidik jari telah dilakukan, tidak pernah ada sidik jari dari dua orang yang sama.

Karena itu, bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa sidik jari adalah salah satu tanda Alloh Ta’ala di mana dia menempatkan rahasia dari ciptaan-Nya dan dapat dengan mudah mengenalinya. Sehingga, sidik jari adalah saksi yang paling nyata di dunia dan di akhirat.

Selain itu, sidik jari menunjukkan kekuasaan Sang Pencipta dalam menciptakan garis-garis yang sangat halus pada tempat yang sempit, yang tidak melebihi beberapa cm2.

Bukankah ini merupakan keajaiban ilmiah yang mengagumkan, yang menunjukkan kekuatan absolut dari Sang Pencipta? Dia berfirman dalam kitabnya yang agung:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fussilat:53).

 

Referensi ilmiah

British Encyclopedia menyebutkan : “Para ahli anatomi awal telah mendeskripsikan garis-garis pada jari. Tetapi, ketertarikan dalam identifikasi sidik jari modern sudah dimulai sejak tahun 1880, saat jurnal ilmiah Inggris, Nature, memublikasikan surat-surat dari Henry Faulds dan William james Herschel yang menggambarkan keunikan dan sifat permanen dari sidik jari. Pengamatan mereka telah diverifikasi sidik jari berdasarkan polanya menjadi busur, putaran, dan lingkaran. Sistem Galton kemudian menjadi dasar dari sistem klasifikasi sidik jari yang dikembangkan oleh Sir Edward R. Henry, yang kemudian menjadi kepala komisaris dari London Metropolitan Police.”

Disebutkan juga bahwa sidik jari memberikan sarana yang sempurna untuk identifikasi perorangan, karena susunan garis pada setiap jari masing-masing orang adalah unik dan tidak berubah seiring pertumbuhan dan usia. Sidik jari dapat membuka identitas asli dari seseorang terlepas dari sanggahan orang itu, nama yang digunakan, atau perubahan pada penampilan orang itu akibat usia, penyakit, operasi plastik, ataupun kecelakaan.”

Aspek mukjizat

Setelah para pagan Quraisy menyanggah bahwa manusia akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat, mereka berpikir, “Bagaimana mungkin Alloh dapat mengumpulkan tulang-tulang dari orang mati?” Rabb semesta alam menjawab, dia tidak hanya mampu untuk mengumpulkan tulang belulangdari mereka yang telah matitetapi juga mampu menyusun kembali ujung jemari mereka dengan sempurna, yang merupakan bagian yang kecildan halus dari tubuh manusia. Darinya-lah seseorang dapat diidentifikasi dan membedakan seseorang dengan yang lainnya, terlepas dari apapun yang pernah menimpa dirinya. Ini adalah hasil dari penemuan ilmiah dan penelitian sejak akhir abad ke 19.

*Mukjizat Al-Qur’an yang Tak Terbantahkan

 

 

 

Sidik Jari dan Identitas Seseorang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *