Futur adalah penyakit hati yang perlu disembuhkan, karena dengan futur akan terhalanglah segala aktivitas ibadah yang biasa kita amalkan. Bukan sekedar itu futur bisa dikatakan sarangnya penyakit dari situlah muncul kemalasan-kemalasan yang pada ujungnya akan membuat rugi orang yang terjangkiti dengan penyakit ini.

Futur berasal dari kata فتر-يفتر-فتورا  yang artinya berkurang surut, layu, lemah. Dalam kitab Lisanul-Arob (Ibnu Mandzur 5/43), kata Fatara mengandung pengertian; ‘sikap berdiam diri setelah sebelumnya bergiat’ atau ‘melemah setelah sebelumnya kuat’.

Sedangkan dalam arti istilah yaitu, suatu penyakit yang dapat menimpa sebagian kaum muslimin atau sebagian aktivis, bahkan menimpa mereka secara praktikal (perbuatan). Tingkatannya yang paling rendah berupa kemalasan, menunda-nunda atau berlambat-lambat. Puncaknya ialah terputus atau berhenti sama sekali sebelumnya rajin dan terus bergerak.

Iman seseorang berkurang dan bertambah, bertambah dengan keimanan dan berkurang dengan kemaksiatan, ini menunjukkan bahwa futur memiliki sebab sebab tersendiri diantaranya adalah, sebab yang paling utama yaitu bersikap tengah-tengah dalam beramal sholeh, karena membebani suatu hal yang melebihi kemampuan diri akan membuat diri itu menjadi terputus dalam beramal.

 

Rasulpun pernah memarahi orang yang mengharamkan daging, wanita, dan tidur bagi dirinya sendiri dengan sabdanya : “akan binasa orang-orang yang memberatkan diri” (HR.Muslim), sebagaimana ia bersabda : “Barang siapa yang tidak suka ajaranku maka ia bukan termasuk golonganku”.  (HR.Bukhori).

Dalam Sabdanya yang lain : “Ambillah dari amalan-amalan, apa yang kamu mampu dan kuat (untuk mengerjakannya), sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan” (HR.Bukhori).

 

 

Manejemen waktu merupakan unsur  penting untuk mengatasi futur. Dalam artian ada waktu untuk Ibadah, mencari rizki, belajar, menunaikan hak-hak orang lain, juga birrul walidain. Tak kalah penting pula refreshing diri dengan hal-hal yang halal merupakan hal yang diperlukan untuk keberlangsungan kekuatan iman. Karena jiwa ataupun diri, bercelah untuk merasa capek atau bosan jika ia selalu beraktifitas. Tetapi jika aktifitas-aktifitas yang ada terorganisir dengan baik, maka akan membawa pengaruh yang baik bagi keterbolak-baliknya sikon iman ini, bahkan kemungkinan anda akan melihat diri sendiri merasa rindu untuk melakukan aktifitas baik ibadah atau refreshing diri sebelum waktunya datang.

 

Sebagaimana saya anjurkan bagi tiap-tiap jiwa yang sedang futur untuk “tanwii’” (memperbanyak macam) dalam beramal sholih : tidak hanya puasa terus misalnya, atau sholat terus, tetapi antara sholat, puasa, dan semua amal sholih lainnya. Karena seseorang jika berada pada satu ibadah saja, dan monoton, maka akan terserang futur.

 

Sedangkan futur  merupakan tanda-tanda adanya biji keimanan dalam hati ukhti, dan saya mohon kepada Allah untuk selalu memberikan hidayah-Nya kepada ukhti dan menjadikan biji tersebut tumbuh subur. Hati ini memang sifatnya berbolak-balik, karenanya ia dinamakan dengan hati (qolbu), Rasulullah menyifatinya ibarat bulu yang menggantung di pohon, ia akan dibolak-balikkan angin. (HR. Ahmad). Sehingga Rasulullah mengajurkan kepada kita untuk senantiasa berdoa :

 

اللهم يا مقلب القلوب  ثبت قلبي على دينك 

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati dan mata, tetapkan hatiku selalu dalam agamamu.

 

*dari berbagai sumber