Sebagai umat muslim yang beriman kita tidak boleh meragukan pedoman hidup kita sendiri, al-Qur’an adalah kitab yang contentnya berkaitan dengan petunjuk bagi umat manusia agar mereka dapat mengenal mana jalan yang benar dan mana yang sesat, bukan hanya itu al-Qur’an juga berfungsi sebagai tanda kemukjizatan bagi rosululloh SAW.

Perlu diketahui bahwa al-Qur’an bukanlah kitab science akan tetapi al-Qur’an berisi آيات )signs( yang menunjukkan kebesaran Alloh SWT dan didalamnya tersisipi dengan science dan hal ini sudah terbukti dengan kesesuaian ilmu modern hari ini dengan apa yang tercantum dalam al-Qur’an al-Karim seperti halnya bagaimana bentuk bumi, teori big bang, air sebagai sumber kehidupan dan masih banyak lagi.

Semua itu adalah secuil bantahan terhadap orang-orang yang menganggap al-Qur’an tidak relevan dengan perkembangan zaman saat ini terutama terhadap kaum orientalis yang menganggap bahwa al-Qur’an adalah buatan Muhammad bin Abdulloh. Salah satu ayat yang berkaitan dengan science terdapat pada surat an-naml ayat: 18,

 

“Hingga apabila sampai mereka di lembah semut, berkatalah  Seekor Semut, “Hai semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak di injak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”

 

Ayat ini menceritakan suatu kejadian ketika Nabi Sulaiman dan bala tentaranya sedang melewati sebuah lembah semut. Dari sini mungkin bagi yang kurang memahaminya tidak ada hal yang aneh dan menerima apa adanya mengenai terjemahan ini. Tapi coba kita perhatikan “berkatalah seekor semut” merupakan terjemahan dari “قالت النملة” dan namlah adalah kata tunggal yang berarti seekor semut secara tidak langsung menunjukkan kepada kita bahwa semut terorganisir dan memiliki leadher dari salah satu diantara mereka, sungguh suatu mukjizat karena hal ini sesuai dengan penemuan para ilmuwan di abad modern yang menyatakan bahwa semut memiliki Ratu Semut yang bertugas untuk mengambil alih komando.

Beberapa analisis penelitian sementara yang dipublikasikan oleh majalah Reader Digest yang terbit sekitar akhir dasawarsa 1970-an dapat memberi jawaban. Majalah tsersebut memaparkan, keistimewaan semut yang dapat disesuaikan dengan konteks kehidupan manusia.

 

  1. Pertama, komunitas semut memiliki sistem (sruktur) kemasyarakat yang lengkap dengan pembagian tugasnya.
  2. Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan kolektif. Artinya komunitas semut dapt berperang dengan komunitas semut lainnya yang dipimpin ratu masing-masing.
  3. Ketiga, semut mengenal sistem navigasi yang baik.
  4. Keempat, semut mengenal sistem peternakan. Dapat dilihat terkadang adanya jamur putih lembut pada dedaunan jambu, mangga, rambutan dsb. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang menghasilkan cairan manis. Dan semut tahu bahwa hewan itu malas berpindah jadi semut memindahkan (hewan itu) ke tempat baru- jika lahan tersebut mulai tandus dan semut memerah cairan hewan tersebut, setiap periode tertentu. Sampai saat ini belum ditemukan hewa  lain yang mengenal sistem peternakan yang baik.

Dengan pembahasan ini seharusnya umat muslim yang mengimaninya sebagai sebuah pedoman hidup menjadikannya sebuah inspirasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan al-Quran seperti yang dilakukan para cendikiawan muslim di masa lalu yang menjadikan al-Quran sebagai landasan untuk melahirkan ilmu-ilmu hitung seperti aljabar, geometri dan matematikan yang salah satu inspirasinya diambil dari ayat-ayat yang berkaitan dengan mawaris. Mudah-mudahan artikel yang singkat ini dapat memberikan manfaat dan bukan hanya sekedar wawasan akan tetapi wawasan yang dapat menambah keimanan kita sehingga berpengaruh kepada kehidupan sehari-hari ke arah yang lebih baik. Wallohua’lam bisshowab…